KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN SAINS DI DUNIA ISLAM

A.    KEMAJUAN SAINS DI DUNIA ISLAM

Munculnnya dan berkembangan sains di dunia islam tidak dapat di pisahkan dari sejarah ekspansi islam itu terdiri. Dalam tempo lebih kurang 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, kaum muslimin telah berhasil menaklukkan seluruh jazirah arabia dari selatan hingga utara.

Kemunculan sains di dunia islam dan Eropa barat memang ada masa pemindahan, namun ada juga masa pengujuran, pencernaan, dan penyerapan, yang berarti penolakan. Pakar sejarah sains dari Universitas Harvad, Profesor Abdul hamid sabra menyebutkan ada tiga fase tahap islamisasi sains :

  1. fase peralihan atau vakuisasi, dimana sains yunani memasuki wilayah peradaban islam bukan  sebagai penjajah, melainkan sebagai tamu yang di undang.
  2. Fase penerimaan atau adopsi, di mana tuan rumah mulai mengambil dan menikmati oleh-oleh yang dibawa ang tamu.
  3. Fase asimilasi dan naturalisasi, pada tahap ini tuan rumah bukan sekedar menerima dan menikmati, tetapi juga mampu meramu dan memasak, menciptakan menu baru.

Ada tiga factor yang mendorong kemajuan sains di dunia islam antara lain:

  1. kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami, dan mengamalkan ajaran islam
  2. adanya motivasi agama sebagaimana kita ketahui, kitab suci Al-Qur’an berisi ajaran untuk menuntut ilmu, peintah membaca, eksplorasi, dan ekspedisi, dan berfikir ilmiah rasional
  3. faktor sosial politik. Berkembangnya kebudayaan ilmu dan tradisi ilmiah pada masa itu, terutama kondisi masyarakat islam meskipun terdiri dari bermacam-macam etnis, namun berhasil di ikut oleh akidah islam.

 

B. KEMUNDURAN SAINS DI DUNIA ISLAM

Toby E. Huff. Mengatakan faktor-faktor penyebab kemunduran dan kematian sains di dunia islam dapat di kelompokkan menjadi dua (internal) dan (eksternal).

Faktor internal seperti kelemahan metodologi, kurangnya matematisasi, langkanya imajinasi teoritis, dan jarangnya eksperimentasi, juga dianggap sebagai penyebab stagnasi sains di dunia Islam. Pendapat ini disanggah oleh Toby Huff. Menurutnya, mengapa di dunia Islam yang terjadi justru kejumudan dan bukan revolusi sains lebih disebabkan oleh masalah sosial budaya ketimbang oleh hal-hal tersebut diatas. Buktinya, Copernicus pun didapati menggunakan model dan instrumen yang didesain oleh at-Tusi. Tradisi saintifik Islam, tegas Huff, juga terbukti cukup kaya dengan pelbagai teknik eksperimen dalam bidang astronomi, optik maupun kedokteran. Oleh karena itu Huff lebih cenderung menyalahkan iklim sosial-kultural-politik saat itu yang dianggapnya gagal menumbuhkan semangat universalisme dan otonomi kelembagaan di satu sisi, dan membiarkan partikularisme serta elitisme tumbuh berkembang-biak. Di sisi lain, Huff menilai tidak terdapatnya skeptisisme yang terorganisir dan dedikasi murni turut mempengaruhi perkembangan sains di dunia Islam.

David C. lind berg menyebutkan ada tiga faktor atas kemunduran sains di dunia islam :
a. Oposisi kaum konservatif
b. Krisis ekonomi dan politik serta,
c. Keterasingan dab keterpinggiran

Profesor sabra mengatakan, kemunduran merupakan fase ke empat dari proses yang disebutkan sebagai “appropriasasi” itu. Aktifitas saintifik mengalami reduksi karena lebih di arahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis. Sains menyempit wilayah dan peronanya menjadi sekedar pelayan agama.

By Muhamad Irkham Luthfi Ansori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s